After the Winding Road

Post date:

Author:

Category:

Winding Road selalu terlihat indah dalam komposisi foto, Tapi bila kamu lalui itu dalam sebuah roadtrip yang panjang akan terasa melelahkan, situasinya akan menjadi berbeda, tantangannya adalah menaklukan setiap kelokan dengan konsentrasi dan kesabaran, ini bukan sebuah fairy tail, tapi sebuah perjalanan…

Pertengahan tahun 2017 sebuah message masuk ke whatsapp, “Chong, lu masih foto2?” sebuah pertanyaan yang straight to the point untuk merajut sebuah tali persahabatan yang terputus selama 4 tahun “Gue mau married tahun depan, lu bisa fotoin gue?”

Lomba fotografi adalah salah satu pengisi waktu semasa perkuliahan, tiap kali menang biasanya berbagi hasil kemenangan itu untuk asisten yang handle umbrella lighting, btw bisa bayangin punya asisten digodain sama SPG cantik di event otomotif?

Ya, itu adalah Robin Gunawan, teman seperjuangan di FH Tarumanagara 2008, muka ganteng, badan tinggi ala-ala Korea & jago maen basket cukup jadi modal perhatian mahasiswi-mahasiswi pada saat itu, Sayangnya Robin sedikit pemalu dengan cewe, “Lu gablo* banget si Bin, kalo gue jadi lo udah kelar semua itu cewe-cewe fakultas laen gue pacarin” olok-olok kami *.ganteng blo’on

Setelah brainstorming, timeframenya disesuaikan setelah sidang wisuda S2 gue, sembari merancang itinerary dan menunggu pergantian musim di New Zealand

April 2010 Robin menjalin hubungan dengan Ririn, sebuah romansa SMA yang terwujud, pertemuan mereka sekalian menjauhkan hubungan kita, karena dia sibuk pacaran, gym dan basket, dan gue sendiri sibuk dengan pekerjaan fotografi

2013 Robin lulus, dan mulai bekerja, selang 2 tahun ia berangkat ke New Zealand menyusul Ririn untuk melanjutkan pendidikan di Auckland. “Cuek dalam hubungan tapi pekerja keras” tutur Ririn mengenai Robin, namun karangan bunga dan cincin valentine sempat mewarnai hubungan mereka walaupun Robin bukan tipe yang mampu  merangkai kata-kata

Sementara “Keras kepala dan Tahan banting” menjadi sifat Ririn yang terbersit pertama kali di kepala Robin, itu yang membuat hubungan mereka utuh selama 7 tahun dan berlanjut di pelaminan.

Diawali dengan scenery di dermaga Auckland “Gue mau viewnya keliatan jelas, kalau close up, gak perlu jauh-jauh di Jakarta aja” pesan Ririn, sebuah brief yang jelas dan memang, oleh karena itu sebagian besar foto-foto diambil long-shot. Melewati scenery cantik di New Zealand adalah hal yang sia-sia

Mengelilingi Auckland untuk mengambil scene bukit yang terlihat kota dimalam hari dengan latar belakang perkotaan

Hingga menyusuri South Island yang lebih dingin, menyusuri Christchurch kota kecil yang memiliki taman Sakura

Memandang milky way di Church Good of Shepherd dikala malam hari dengan temperatur 0 derajat dengan hembusan angin Lake Tekapo

Menyusuri tepian Lake Pukaki dengan refleksi gunung es yang terlihat magis

Dibalik foto-foto romantis ini, sebenarnya terlalu banyak kata-kata yang gak mungkin diucapin fotografer pre-wedding umumnya seperti, “buruan cium, udah pegel gua!, senyum anj*****ng, buruan dingin ini!” atau berbagai makian-makian yang gak dimengerti penduduk lokal, tapi justru hal-hal seperti itu yang menghilangkan kejenuhan dan kelelahan roadtrip

 

 

INSTAGRAM

chongky
2011-2013 - Photographer at Kompas Gramedia of Magazine (MOTOR, Retroisme, Car & Tuning Guide, AutoEXPERT) 2013-2015 - Project Manager at Speed Architech

How To Match Your Leather Hat With Your Summer Dress

Comfort is very important to me. I think people live better in big houses and in big clothes. I try to contrast; life today...

Looking Shady: Essential Sunglasses for the Summer

Comfort is very important to me. I think people live better in big houses and in big clothes. I try to contrast; life today...

The Best Ways to Show Off your Stunning Diamond Bling

Comfort is very important to me. I think people live better in big houses and in big clothes. I try to contrast; life today...